of 8/8
Laporan Kasus Neurona Vol. 32 No. 2 Maret 2015 HEMIANOPSIA HOMONIM SEBAGAI GEJALA TUNGGAL PADA PASIEN STROKE ISOLATED HOMONYMOUS HEMIANOPSIA IN PATIENTS WITH STROKE Gracia Meliana Tanoyo*, AABN Nuartha* ABSTRACT The stroke signs and symptoms may vary, depending on the brain area that is affected. Posterior circulation stroke are rare, compared to anterior circulation site. Patients may come with visual problems complaint only, making clinicians unaware of stroke as the diagnosis. We report 2 stroke cases presents isolated homonymous hemianopsia. Patients who come with sudden visual impairment, including isolated homonymous hemianopsia, and are associated with vascular risk factors (hypertension, diabetes mellitus, dislipidemia, smoking, alcohol consumption, etc.) should be suspected as stroke patient until proven otherwise. Keywords: Homonymwous hemianopsia, cerebral posterior circulation, stroke, visual impairment ABSTRAK Gejala dan tanda stroke dapat bervariasi, tergantung pada area otak yang terlibat. Stroke pada sirkulasi posterior lebih jarang dijumpai dibandingkan dengan area sirkulasi anterior. Pasien dapat datang hanya dengan keluhan gangguan pandangan saja dan membuat klinisi tidak menyadari diagnosis stroke. Kami melaporkan 2 serial kasus stroke dengan keluhan hemianopsia homonim terisolasi. Pasien yang datang dengan keluhan gangguan pandangan, termasuk hemianopsia homonim, yang timbul mendadak disertai adanya faktor risiko vaskular (seperti hipertensi, diabetes mellitus, dislipidemia, merokok atau konsumsi alkohol) sebaiknya dipikirkan suatu diagnosis stroke sampai terbukti bukan. Kata kunci : hemianopsia homonim, sirkulasi serebri posterior, stroke, gangguan visual * *Bagian/SMF Ilmu Penyakit Saraf FK Universitas Udayana/RSUP Sanglah, Denpasar. Korespondensi: [email protected] PENDAHULUAN Sekitar 10% penderita stroke mengalami gangguan lapang pandang, yang akan memengaruhi keseluruhan fungsi neurologisnya. 1,2 Gangguan ini dapat menyebabkan penurunan pada fungsi dasar seperti membaca, pencarian visual, dan navigasi. 3 Zhang dkk (2006) melakukan penelitian pada 904 pasien stroke dan non-stroke yang menderita hemianopsia homonim, terbanyak (69,7%) disebabkan oleh stroke. Dari seluruh pasien stroke tersebut, 84,4% berupa stroke iskemik dan 15,6% akibat perdarahan intraparenkim. Kejadian hemianopsia homonim lebih banyak ditemukan pada orang tua, seringkali bilateral, kongruen, dan terisolir (tidak disertai defisit neurologis lain). Onset hemianopsia homonim pada penderita stroke secara signifikan terjadi lebih cepat dibanding penderita non-stroke. Dari penelitian tersebut juga didapatkan penundaan pemeriksaan lapang pandang secara detil, yang menunjukkan kurangnya perhatian klinisi pada kondisi ini. 1 Umumnya klinisi maupun masyarakat menganggap bahwa gejala stroke haruslah kelemahan baik pada separuh sisi otot wajah maupun anggota gerak. Jika gejala tersebut tidak didapatkan, maka gejala lain kurang diwaspadai sebagai suatu penanda stroke. Hal ini tentunya akan menyebabkan tertundanya penegakan diagnosis dan terapi, yang pada akhirnya dapat memperburuk luaran defisit neurologis penderita. Gangguan lapang

HEMIANOPSIA HOMONIM SEBAGAI GEJALA TUNGGAL ...Pupil isokor, refleks cahaya (+/+), visus 3/60 mata kanan dan kiri. Funduskopi tampak papil n. II bulat, batas tegas, warna jingga, cup-disc

  • View
    3

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of HEMIANOPSIA HOMONIM SEBAGAI GEJALA TUNGGAL ...Pupil isokor, refleks cahaya (+/+), visus 3/60 mata...

  • Laporan Kasus

     

    Neurona Vol. 32 No. 2 Maret 2015

     

    HEMIANOPSIA HOMONIM SEBAGAI GEJALA TUNGGAL PADA PASIEN STROKE

    ISOLATED HOMONYMOUS HEMIANOPSIA

    IN PATIENTS WITH STROKE

    Gracia Meliana Tanoyo*, AABN Nuartha*

    ABSTRACT

    The stroke signs and symptoms may vary, depending on the brain area that is affected. Posterior circulation stroke are rare, compared to anterior circulation site. Patients may come with visual problems complaint only, making clinicians unaware of stroke as the diagnosis. We report 2 stroke cases presents isolated homonymous hemianopsia. Patients who come with sudden visual impairment, including isolated homonymous hemianopsia, and are associated with vascular risk factors (hypertension, diabetes mellitus, dislipidemia, smoking, alcohol consumption, etc.) should be suspected as stroke patient until proven otherwise. Keywords: Homonymwous hemianopsia, cerebral posterior circulation, stroke, visual impairment ABSTRAK

    Gejala dan tanda stroke dapat bervariasi, tergantung pada area otak yang terlibat. Stroke pada sirkulasi posterior lebih jarang dijumpai dibandingkan dengan area sirkulasi anterior. Pasien dapat datang hanya dengan keluhan gangguan pandangan saja dan membuat klinisi tidak menyadari diagnosis stroke. Kami melaporkan 2 serial kasus stroke dengan keluhan hemianopsia homonim terisolasi. Pasien yang datang dengan keluhan gangguan pandangan, termasuk hemianopsia homonim, yang timbul mendadak disertai adanya faktor risiko vaskular (seperti hipertensi, diabetes mellitus, dislipidemia, merokok atau konsumsi alkohol) sebaiknya dipikirkan suatu diagnosis stroke sampai terbukti bukan. Kata kunci : hemianopsia homonim, sirkulasi serebri posterior, stroke, gangguan visual * *Bagian/SMF Ilmu Penyakit Saraf FK Universitas Udayana/RSUP Sanglah, Denpasar. Korespondensi: [email protected]

    PENDAHULUAN

    Sekitar 10% penderita stroke mengalami gangguan lapang pandang, yang akan memengaruhi keseluruhan fungsi neurologisnya.1,2 Gangguan ini dapat menyebabkan penurunan pada fungsi dasar seperti membaca, pencarian visual, dan navigasi.3 Zhang dkk (2006) melakukan penelitian pada 904 pasien stroke dan non-stroke yang menderita hemianopsia homonim, terbanyak (69,7%) disebabkan oleh stroke. Dari seluruh pasien stroke tersebut, 84,4% berupa stroke iskemik dan 15,6% akibat perdarahan intraparenkim. Kejadian hemianopsia homonim lebih banyak ditemukan pada orang tua, seringkali bilateral, kongruen, dan terisolir (tidak disertai defisit neurologis lain). Onset hemianopsia homonim pada penderita stroke secara signifikan terjadi lebih cepat dibanding penderita non-stroke. Dari penelitian tersebut juga didapatkan penundaan pemeriksaan lapang pandang secara detil, yang menunjukkan kurangnya perhatian klinisi pada kondisi ini.1

    Umumnya klinisi maupun masyarakat menganggap bahwa gejala stroke haruslah kelemahan baik pada separuh sisi otot wajah maupun anggota gerak. Jika gejala tersebut tidak didapatkan, maka gejala lain kurang diwaspadai sebagai suatu penanda stroke. Hal ini tentunya akan menyebabkan tertundanya penegakan diagnosis dan terapi, yang pada akhirnya dapat memperburuk luaran defisit neurologis penderita. Gangguan lapang

  • Laporan Kasus

     

    Neurona Vol. 32 No. 2 Maret 2015

     

    pandang sering dikeluhkan sebagai pandangan kabur, sehingga pasien berobat ke dokter mata. Berikut dibahas dua kasus stroke (stroke iskemik dan stroke hemoragik) yang berobat ke dokter mata dengan keluhan utama pandangan kabur tanpa gejala neurologis lainnya.

    LAPORAN KASUS

    KASUS 1

    Seorang laki-laki, 54 tahun, datang ke Unit Gawat Darurat (UGD) dengan keluhan utama pandangan kedua mata kabur mendadak 7 hari sebelumnya. Keluhan ini terjadi saat pasien sedang naik sepeda motor, dimana mendadak pandangan mata os gelap. Pasien sempat berhenti dan tidak terjatuh dari motornya. Pandangan gelap berlangsung selama kurang lebih dua hari, membaik hingga hari pasien datang ke UGD. Selain itu, bersamaan dengan gangguan pandangan, pasien juga mengeluh nyeri kepala yang dirasa berdenyut di daerah pelipis, cenderung menetap, hilang hanya saat tidur, tidak disertai mual atau muntah. Tidak ada keluhan lain, belum pernah seperti ini sebelumnya.

    Riwayat penyakit hipertensi dan kencing manis tidak diketahui, sakit jantung dan stroke disangkal. Tidak didapatkan riwayat hipertensi, kencing manis, stroke ataupun penyakit jantung pada keluarga. Pasien bekerja sebagai petani, tidak merokok dan tidak minum alkohol.

    Pada saat masuk RS pasien tampak sakit ringan, kesadaran kompos mentis, berat badan 60 kg, tinggi badan 165 cm. Tanda vital dan status generalis dalam batas normal. Pasien terdapat nyeri kepala tipe vaskular (nyeri berdenyut di kedua sisi kepala). Pasien awalnya dikonsulkan oleh dokter triage UGD ke bagian mata. Pasien kemudian dirujuk ke Bagian Neurologi setelah didapatkan hasil CT scan kepala yang menunjukkan adanya perdarahan intrakranial. Pada pemeriksaan neurooftalmologi, palpebra tidak ada kelainan, konjungtiva tenang, kornea jernih dengan arkus senilis (+), tekanan intraokular normal (TIO). Pupil isokor, refleks cahaya (+/+), visus 3/60 mata kanan dan kiri. Funduskopi tampak papil n. II bulat, batas tegas, warna jingga, cup-disc ratio 0,3; arteri:vena=2:3, retina baik, makula tenang, refleks fovea (+/+). Pada pemeriksaan uji konfrontasi didapatkan hemianopsia homonim sinistra.

    a. b.

    Gambar 1. Gambar CT Scan Kepala Saat Masuk RS (a) dan saat keluar RS (b).

    Hasil laboratorium darah lengkap didapat kolesterol total 257mg/dl, LDL 150mg/dL, HDL76mg/dL, trigliserida 131mg/dL, Na 142mmol/L, K 3,9mmol/L, koagulasi dan lain-lain dalam batas normal. CT scan kepala non-kontras pada saat masuk RS (Gambar 1), hari ketujuh onset stroke, menunjukkan gambaran perdarahan intraserebral pada lobus oksipital kanan dengan volume ±21mL disertai perifokal edema yang menyebabkan penekanan pada ventrikel lateralis kanan dan pergeseran midline ke arah kiri sejauh ±0,6cm. Pada minggu kedua perawatan, pasien menjalani pemeriksaan perimetri yang menunjukkan adanya hemianopsi homonim kiri inkongruen (Gambar 2).

  • Laporan Kasus

     

    Neurona Vol. 32 No. 2 Maret 2015

     

    Mata Kanan Mata Kiri

    Gambar 2. Pemeriksaan Perimetri Kedua Mata dengan Optopol

    Pasien mendapatkan terapi sesuai stroke hemoragik, citicholine 500mg/hari

    intravena (dilanjutkan oral saat rawat jalan), paracetamol 3x750mg untuk nyeri kepala, dan simvastatin 20mg/hari. Selama pengobatan visus membaik menjadi 6/6 dalam waktu 3 minggu, sedangkan gangguan lapang pandang menetap.

    KASUS 2

    Seorang laki-laki, 49 tahun, dirujuk oleh bagian Mata ke Poliklinik Neurologi dengan keluhan padangan kedua mata buram mendadak 2 hari sebelum datang ke RS. Saat pasien sedang menulis di tempat kerjanya, pandangan os mendadak buram (seperti kurang fokus), disertai sakit kepala berdenyut, terutama saat membaca. Pasien mencoba minum kopi dan rasa sakit kepalanya berkurang. Selang beberapa jam, rasa sakit kepala kembali terjadi, pandangan pasien makin tidak fokus dan kabur hingga saat berjalan pasien tidak sengaja menabrak benda-benda di sekitarnya. Pasien kembali minum kopi dan beristirahat. Oleh karena keluhan tidak berkurang, pasien berobat ke dokter Spesialis Mata dua hari setelah serangan tersebut.

    Setelah menjalani pemeriksaan mata, pasien pulang dengan rencana CT scan kepala dengan kontras. Pasien dikonsultasikan ke Poliklinik Neurologi setelah ada hasil CT scan, pada onset hari ketujuh. Keluhan ini baru pertama kali dirasakan pasien, tidak ada gejala atau penyakit lain sebelumnya. Riwayat hipertensi dan kencing manis tidak diketahui. Pasien bekerja sebagai PNS, merokok ±1 bungkus per hari dan minum alkohol ±1 botol/bulan. Ayah pasien menderita stroke.

    Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran kompos mentis, berat badan 75kg, tinggi badan 160cm. Tanda vital dan status generalis lain dalam batas normal. Pemeriksaan neurooftalmologi didapatkan palpebra normal, konjungtiva tenang, kornea jernih dengan arkus senilis (+), bilik mata depan normal, lensa jernih, vitreus jernih, TIO normal. Pupil bulat reguler dengan refleks cahaya (+), visus 5/60 mata kanan dan kiri. Funduskopi tampak papil n.II bulat, batas tegas, cup-disc ratio 0,3, arteri:vena=2:3, retina baik, refleks makular (+). Pemeriksaan lapang pandang kesan hemianopsia homonim kanan.

  • Laporan Kasus

     

    Neurona Vol. 32 No. 2 Maret 2015

     

    Pemeriksaan darah lengkap dalam batas normal. Profil lipid didapatkan peningkatan kadar kolesterol total (232mg/dL) dan LDL (110mg/dL), sedangkan HDL (65 mg/dL) dan trigliserida (127mg/dL) masih dalam batas normal. Pada pemeriksaan CT scan kepala tanpa kontras pada onset hari kelima didapatkan infark serebral kronik pada lobus oksipital kiri.

    Gambar 3. CT Scan Kepala tanpa Kontras Onset Hari Kelima

    Pasien menjalani pemeriksaan lapang pandang dengan perimetri digital optopol

    dengan hasil hemianopsi homonim kanan, kongruen, dengan macular sparing.

    Mata Kanan Mata Kiri Gambar 4. Hasil Perimetri Kedua Mata

    Pasien diberikan terapi sesuai stroke iskemik yaitu citicholine 1000mg/hari per oral, aspilet 100mg/hari per oral dan paracetamol 3x750mg bila nyeri kepala. Pada perkembangannya pasien kontrol rawat jalan di pusat kesehatan lain, namun dikatakan pasien saat ini sudah aktif kembali bekerja dan tidak terlalu terganggu dengan fungsi visualnya, tanpa nyeri kepala.

    PEMBAHASAN

    Gejala stroke disebabkan oleh penurunan aliran darah ke jaringan otak, tergantung pada area otak yang mengalami kekurangan suplai oksigen.4 Setiap serangan stroke disertai gejala yang berbeda pada tiap individu, tergantung beratnya kerusakan yang terjadi.5 Proses melihat, tidak hanya melibatkan organ mata, tetapi juga otak. Kerusakan yang terjadi pada otak akibat stroke dapat mengganggu jalur visual dari mata hingga koteks visual, dan dapat mengakibatkan gangguan visus dan lapang pandang. Oleh

  • Laporan Kasus

     

    Neurona Vol. 32 No. 2 Maret 2015

     

    karena itu, masalah penglihatan terkait stroke bisa menjadi sangat kompleks untuk dipahami tetapi penting untuk segera ditangani.6

    Hemianopsi homonim adalah hilangnya separuh lapang pandang secara total atau sebagian pada masing-masing mata. Hemianopsia homonim kanan ditandai dengan hilangnya lapang pandang di bagian nasal mata kiri dan bagian temporal mata kanan, sedangkan hemianopsia homonim kiri ditandai dengan hilangnya lapang pandang di bagian temporal mata kiri dan bagian nasal mata kanan.7 Pada kasus pertama, pasien dengan gangguan lapang pandang sebelah kiri dan pasien kedua dengan gangguan lapang pandang sebelah kanan, sesuai dengan lokasi lesi yang ada, yaitu di lobus oksipital kanan pada kasus pertama dan lobus oksipital kiri pada kasus kedua.8

    Setiap proses yang menyebabkan cedera otak dapat menyebabkan hemianopsia homonim. Penyebab tersering adalah stroke, baik itu karena perdarahan, emboli, trombosis, vaskulitis, atau diseksi. Pada pasien dengan stroke yang melibatkan a. serebri posterior bisa datang tanpa gejala apapun selain gangguan penglihatan. Pada kondisi ini, dapat terjadi salah diagnosis oleh dokter spesialis mata yang mengabaikan pemeriksaan lapang pandang. Terkadang, pasien melaporkan episode serangan seperti vertigo akut, rasa tebal, atau diplopia, yang kemungkinan menandakan emboli yang menyumbat a. serebri posterior setelah berjalan mengikuti a. basilaris.8

    Jalur visual dimulai dari retina dan berakhir pada area korteks. Pada dasarnya ada tujuh level yang dilalui oleh impuls visual, yaitu: retina, nervus optikus, kiasma optika, traktus optikus, korpus genikulatum lateral, radiasio optika, dan area korteks lobus oksipital (Gambar 5).9

  • Laporan Kasus

     

    Neurona Vol. 32 No. 2 Maret 2015

     

    Gambar 5. Gambaran gangguan lapang pandang (http://neurores.wikidot.com/board-review-neuro-ophth)

    Lobus oksipital dibatasi di medial oleh sulkus parietooksipital, batas lateral, dan

    basal yang memisahkannya dari lobus parietal dan temporal tidak dapat dijelaskan dengan tepat. Korteks visual primer (korteks striata, area Brodmann 17) terletak pada kutub oksipital dan ditepi dari fisura kalkarina dan dari sana terproyeksi ke korteks asosiasi visual unimodal (korteks parastriata/area Brodmann 18 dan 19). Dari sini serabut eferen menuju ke girus angularis lobus temporal, korteks frontalmotor dan sistem limbik lalu menyeberang melalui korpus kalosum ke hemisfer sisi sebelahnya.10

    Korteks visual satu sisi menerima informasi dari separuh retina temporal sisi ipsilateral dan separuh retina nasal kontralateral, demikian sebaliknya. Informasi visual dari makula lutea menuju bagian posterior area 17, yaitu disekitar kutub oksipital. Lesi unilateral area 17 menyebabkan hemianopsia kontralateral, sedangkan lesi parsial menyebabkan kuadrantanopsia pada lapang pandang yang terkait dengan lokasi lesi. Padangan sentral tidak terganggu selama lesi tidak terjadi pada bagian ujung posterior fisura kalkarina pada kutub oksipital.11,12

    Bila seluruh traktus optikus atau korteks kalkarina pada satu sisi itu rusak, yang terjadi adalah hemianopsia homonim komplit. Namun seringkali area makula tidak terganggu, yaitu lapang pandang 5–10 derajat di sentral (macular sparing). Pada infark lobus oksipital akibat oklusi a.serebri posterior, ditemukan hemianopsia homonim kontralateral yang cenderung kongruen dengan area makular di bagian posterior korteks striata mungkin tidak terganggu karena adanya kolateral dari pembuluh darah a.serebri media. Lesi traktus optikus dan radiasio optika inkomplit biasanya tidak terganggu pandangan sentralnya.13,1

    Gambar 6. Gangguan lapang pandang pada lesi lobus oksipital9

    Defek lapang pandang kongruen tampak berbentuk sama pada kedua mata. Defek

    lapang pandang yang berbeda bentuk dianggap suatu yang inkongruen. Makin inkongruen bentuk defek lapang pandang, lesi yang terjadi makin ke arah traktus optikus, sedangkan bila defek nya kongruen, maka letak lesi lebih mengarah pada korteks visual lobus oksipital.

  • Laporan Kasus

     

    Neurona Vol. 32 No. 2 Maret 2015

     

    Stroke terjadi akibat gangguan peredaran darah di otak, sehingga penting diketahui suplai darah ke area yang dicurigai terkena stroke. Suplai darah ke korteks visual adalah sebagai berikut: arteri serebri posterior memperdarahi korteks visual terutama melalui a. Kalkarina. Cabang terminal a. Serebri media memperdarahi bagian ujung anterior sulkus kalkarina dan bagian kutub lateral oksipital. Di kutub posterior, ada anastomosis yang kaya pembuluh darah antara a. Serebri posterior dan media.9,11

    Pemeriksaan lapang pandang sangat penting dilakukan, sayangnya seringkali terlewatkan dalam pemeriksaan klinis neurologis rutin. Lapang pandang adalah batas dari penglihatan perifer, yaitu area ketika sebuah obyek masih dapat terlihat dengan mata yang terfiksasi ke satu titik. Penglihatan makular (sentral) tajam, penglihatan perifer biasanya lebih kurang jelas, kecuali saat obyek bergerak. Lapang pandang normal yaitu sejauh 90-100 derajat di temporal, 60 derajat di nasal, 50-60 derajat area superior, dan 60-75 derajat area inferior. Ada variasi lapang pandang pada tiap individu, tergantung pada bentuk wajah, bentuk orbita, posisi mata dalam rongga orbita, celah mata, panjang bulu mata atau ukuran hidung. Dengan pandangan binokular, lapang pandang kedua mata saling tumpang tindih, kecuali area dari 60 sampai 90 derajat horisontal di temporal, yang hanya terlihat oleh satu mata saja.13 Hasil pemeriksaan fisik lapang pandang lebih akurat pada pasien sadar dan kooperatif untuk tetap memfiksasi pandangan sesuai perintah pemeriksa. Pemeriksaan yang dilakukan adalah uji konfrontasi.13 Untuk memeriksa lapang pandang sentral, pasien diminta menatap wajah pemeriksa dan diminta melaporkan bila ada defek. Selain itu dapat pula digunakan amsler grid, dengan meminta pasien memfiksasi pandangan pada satu titik sentral, dapat menentukan adanya skotoma.13

    Pada pasien kasus pertama, hasil pemeriksaan fisik menunjukkan hemianopsia homonim kiri. Saat dikerjakan pemeriksaan perimetri didapatkan hasil seperti gambaran tunnel vision. Namun dari hasil diskusi dengan dokter Spesialis Mata dikatakan hasil pemeriksaan perimetri digital optopol mendukung pemeriksaan fisik lapang pandang dengan uji konfrontasi, tetapi ada false negatif 64% (>30%) sehingga data tidak sahih. Hal ini mungkin disebabkan kekurangpahaman pasien terhadap instruksi saat dilakukan pemeriksaan karena saat pemeriksaan pasien diminta untuk menekan tombol respon terhadap rangsang cahaya yang diberikan. Bila pasien tidak sepenuhnya paham mengenai instruksi pemeriksaan, dapat terjadi bias pada hasil pemeriksaan tersebut. Selain itu, kemungkinan hasil perimetri dengan gambaran tunnel vision khas didapatkan ada penderita glaukoma, sedangkan pada kasus pertama TIO pasien normal pada kedua mata.

    Pada kasus kedua, gambaran hasil pemeriksaan perimetri khas untuk hemianopsia homonim kanan, kongruen, dengan macular sparing. Pada pasien kedua tidak didapatkan defek lapang pandang sentral sejauh 6 derajat pada masing-masing mata. Dari hasil CT scan kepala, tampak lesi infark di area lobus oksipital kiri. Hal ini sesuai dengan gambaran gangguan lapang pandang yang didapatkan dari hasil perimetri.

    Pasien yang dapat dievaluasi dalam 3 jam setelah onset mungkin saja merupakan kandidat untuk mendapat terapi recombinant tissue plasminogen activator (rtPA) intravena. Namun dalam kenyataannya, sangat sedikit pasien dengan gejala hanya hemianopsia mendapatkan penanganan medis dalam rentang waktu ini karena pasien tidak menyadari betapa serius kondisinya. Meskipun begitu, pemeriksaan neurologis perlu segera dilakukan untuk mengurangi kemungkinan progresivitas stroke dan pencegahan serangan ulang. Bahkan, bila hemianopsia tidak ditemukan pada saat pasien diperiksa di rumah sakit, riwayat yang jelas akan adanya stroke sepintas (transient ischemic attack/TIA) yang menyebabkan hemianopsia sementara, sebaiknya dirujuk segera8.

    Kedua kasus diatas datang berobat karena merasa penglihatannya kabur, terasa tidak fokus dan jalan menabrak-nabrak benda disekitarnya. Keduanya tidak segera

  • Laporan Kasus

     

    Neurona Vol. 32 No. 2 Maret 2015

     

    memeriksakan diri saat awal serangan karena merasa gejalanya hanya gangguan pada mata dan diharapkan membaik dengan istirahat saja. Mereka kemudian datang memeriksakan diri ke bagian mata dan awalnya didiagnosis sebagai suatu neuritis retrobulber dan baru dikonsultasikan ke bagian saraf setelah ada hasil CT scan kepala yang menyebabkan keterlambatan terapi. Hal ini menunjukkan memang ada kekurangpahaman masyarakat awam, bahwa keluhan pandangan kabur mendadak dapat merupakan penanda suatu penyakit yang serius, salah satunya adalah stroke. Bagi petugas medis, pemeriksaan lapang pandang sebaiknya rutin dilakukan, mengingat pasien mungkin tidak dapat menyebutkan keluhannya secara jelas, apakah pandangan kabur tersebut akibat visusnya yang menurun ataukah gangguan lapang pandang, dan apakah ada faktor risiko bahwa gejala itu merupakan penanda penyakit yang lebih serius di otak.

    KESIMPULAN

    Gejala stroke dapat berupa hanya gangguan jaras visual. Oleh karena itu diagnosis stroke harus dipikirkan pada pasien yang datang dengan gangguan penglihatan mendadak agar dapat diberikan tatalaksana yang cepat dan tepat untuk mempercepat pemulihan.

    DAFTAR PUSTAKA 1. Zhang XJ, Kedar S. Homonymous hemianopia in stroke. J Neuro-Ophthalmol. 2006;26:180-

    3. 2. Luu S. Visual field defects after stroke. Australian family physician. 2010;39(7):499-503. 3. Lynn Ho YC. Residual neurovascular function and retinotopy in a case of hemianopia. Ann

    Acad Med Singapore, 2009;38:827-31. 4. Goldstein LB, Bushnell CD. Guidelines for the primary prevention of stroke: a guideline for

    healthcare professionals from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke. 2011;42:517-584.

    5. Gupta MP. Stroke/hemianopsia. American Foundation for The Blind. [diunduh 4 september 2013]. Tersedia dari: http://www.visionaware.org/section.aspx?FolderID=6&SectionID=120&DocumentID=6148.

    6. Royal National Institute of Blind People. Stroke related eye condition. 2012. [diunduh 4 September 2013]. Tersedia dari: http://www.rnib.org.uk/eyehealth/eyeconditions/eyeconditionsoz/Pages/stroke.aspx.

    7. Windsor RL, Ford CA. Basic concept in visual field loss. The Low Vision Centers of Indiana. 2013. [diunduh 4 September 2013]. Tersedia dari: http://www.hemianopsia.net/visual-fields-in-brain-injury/.

    8. Horton JC. What is the evaluation of a homonymous hemianopia? Healio. 2009. [diunduh 4 September 2013]. Tersedia dari: http://www.healio.com/ophthalmology/curbside-consultation/%7B00794735-a3c6-490c-af9e-5c24b4a34d6f%7D/what-is-the-evaluation-f.

    9. Agarwal A. Manual of neuro-ophtalmology. New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers; 2008.

    10. Mumenthaler. Neurology. New York: Thieme; 2004. 11. Duus P, penyunting. Topical Diagnosis in neurology. Edisi ke-4. New York: Thieme; 2005. 12. Miller NR, Newman NJ. Clinical neuro-ophtalmology: The Essentials. Edisi ke-2.

    Philadelphia: Lippincott Wiliams & Wilkins; 2008. 13. Campbell WW. DeJong's the neurologic examination. Edisi ke-6. Philadelphia: Lippincott

    Williams & Wilkins; 2005. 14. Ropper AR, Brown RB. Adams and Victor's principles of neurology. Edisi ke-8. New York:

    McGraw Hill; 2005.